Blog

For Story 

view:  full / summary

Pergi, Hujan dan Kembali

Posted by burrahman123 on February 17, 2016 at 5:15 AM Comments comments (0)

Aku berharap dapat melupakannya saat hujan menghapus jejakku. Tetapi, aku telah salah. Hujan selalu mengingatkanku ketika ia menyuruhku untuk pergi dan menghilang. Namun dengan seenak hati hujan pula yang membawaku pulang dan bertemu dengannya.

 

.....

 

Aku menatap pemandangan langit malam yang kini tengah menangis di kota yang telah aku tinggalkan beberapa tahun lalu melalui jendela kamar apartemenku.

Jika bukan karena paksaan Gissa, sahabatku yang akan menikah besok. Aku tidak akan mau kembali ke kota ini. Aku sudah berjanji kepada seseorang agar tidak menampakkan diriku di hadapannya. Dan kini, aku takut jika nanti aku bertemu dengannya dan melanggar janjiku.

KRING!!!

Aku mengangkat panggilan masuk di handphone-ku, “halo Rin!! Lo udah di Jakarta?” suara Gissa yang nyaring menggema.

“udah, gue baru nyampe tadi siang...” ucapku tanpa mengalihkan pandanganku dari jendela, terdengar helaan napas dari sebrang sana, “maaf ya, gue gak bisa jemput... tadi gue harus ketemu sama WO gue.”

“santai aja kali, kayak sama siapa aja.” Tawaku meski terdengar hambar.

“oh iya Rin! Beberapa hari yang lalu, gue gak sengaja ketemu sama Alva.” Ucap Gissa membuatku tersentak.

Nama itu. Nama yang dulu pernah mengisi hatiku, bahkan sampai saat ini. Dan nama itu pula yang membuatku menangis untuk yang terakhir kalinya, beberapa tahun lalu.

“Rinai? Lo gak kenapa-napa kan?” tanya Gissa, “hah? Oh, gue gak kenapa-napa kok.” Jawabku menahan sesak akibat berbagai campuran emosi.

“Rin, ternyata Alva rekan bisnisnya Reza, calon suami gue. Jadi besok, lo hati-hati ya kalo gak mau ketemu dia.”

“iya, makasih ya Gis... sampai ketemu besok!”

KLIK.

Aku memutuskan sambungan secara sepihak, aku kembali menatap hujan di luar sana. Dan setelah 5 tahun berlalu, kini air mataku kembali menetes disusul isakkan kecil yang lolos begitu saja dari mulutku. Dan semua kenangan pahit 5 tahun lalu kembali muncul begitu saja seperti sebuah rekaman video.

 

.....

 

Saat itu, kami mengadakan perpisahan SMA kami di Bali, kemana pun Alva pergi aku selalu mengikutinya. Sampai di hari terakhir kami di sana, ia membentakku.

“bisa gak sih lo berhenti ngikutin gue?!” bentaknya.

“tapi gu-“ “gak usah pake tapi-tapi! Lo cuma mau alesankan kalo elo suka sama gue?” ucap Alva ketus.

“lo harusnya sadar!! Sampe kapanpun gue, gak akan pernah suka sama lo! Jadi lebih baik lo pergi dan jauh-jauh dari hidup gue, karena sampai kapanpun gue gak bakal peduli sama usaha lo yang abstrak itu!” teriaknya.

“maaf! Maafin gue... gue minta maaf, gue janji gue gak akan ganggu lo lagi.” Ucapku berkali-kali dengan tubuhku yang mulai meluruh ke tanah.

Kemudian ia meninggalkanku yang terisak sendirian. Hingga pada akhirnya Gissa datang memelukku dan menenangkanku.

Sejak saat itu aku berjanji untuk tidak menampakkan diriku di hadapan dan kehidupannya lagi.

 

.....

 

Setelah nyaris semalaman aku menangis, kini aku berada di balik stir mobilku. Hujan di luar sana membuat jalanan sedikit macet. Setelah akad nikah yang dilakukan Reza dan Gissa. Sekarang aku menuju BallRoom hotel milik Reza yang mereka jadikan sebagai tempat resepsi.

Membutuhkan waktu nyaris 30 menit untuk sampai di BallRoom tersebut. Aku memarkir mobil di seberang hotel, karena parkiran hotel yang sudah penuh. Aku sedikit berlari berupaya menjaga Dress Peach selutut yang kugunakan tidak terlalu basah akibat air hujan.

Aku segera mengantri untuk bersalaman dengan sepasang suami istri berwajah bahagia yang berdiri di atas panggung sana.

Dan tak lama kemudian giliran ku tiba, “Gissa!! Yaampun, udah lama gak ketemu sekarang udah nikah aja... selamat ya!!” aku memeluk sahabatku tersebut.

“Reza! Selamat ya!! Jagain sahabat gue! Kalo dia kenapa-napa gara-gara lo, jangan harap bisa ngeliat dunia lagi” ancamku mengundang kekehan keduanya, “ada-ada aja lo Rin... omong-omong lo kapan nyusul?” ledek Reza membuatku terdiam sebentar.

“kapan-kapan aja kali ya... calon aja belom ada, mau nyusul bareng siapa?” “udah ya, gue pulang duluan ya, ada janji sama seseorang.” Ucapku yang jelas bohong.

Aku hanya ingin menghindari topik tersebut, juga aku tak ingin sampai bertemu dengan Alva yang nantinya akan menghancurkan janji yang selama ini kujaga baik-baik.

Aku turun dari panggung setelah berpamitan dengan Reza dan Gissa. Namun, seseorang memanggilku membuatku berhenti di tempat.

“kamu Rinai, temennya Gissa waktu SMA kan?” tanya laki-laki di hadapanku.

Aku menganggukkan kepalaku, “Abian kan? Temennya Alva?” tanyaku dan laki-laki itu mengangguk, “masih inget toh ternyata sama gue, atau inget gara-gara gue temennya Alva?” tanyanya jahil sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

“udah ah gue mau pulang duluan!” ucapku kemudian membalikkan badanku.

“gak mau ketemu Alva dulu? Setelah lulus lo sama keluarga lo kan semacam menghilang tanpa jejak, bikin idola lo galau karena kehilangan fansnya.” Ledeknya membuat tubuhku seketika membeku.

Aku membalikkan tubuhku kembali menghadapnya, “di-dia ada di sini?” tanyaku.

“ciee... nanyain kangen ya?” “tuh ada di belakang lo!” lanjutnya sambil menunjuk ke arah belakangku.

Seketika tubuhku terasa lemas, apalagi ketika seseorang memelukku dari belakang, “jangan tinggalin gue lagi...” ucap orang tersebut.

Aku segera melepaskan pelukannya, “maaf, salah orang.”

Aku segera berlari keluar dari gedung tersebut, tak peduli dengan hujan yang semakin deras yang mengguyur tubuhku membuatku basah kuyup.

“RINAI?!!” teriak Alva, ya! Aku sangat hafal dengan suara lelaki itu, meski sedikit banyak mengalami perubahan.

“Rin, jangan pergi! Gue mohon jangan pergi lagi, gue mohon!” ucapnya lirih, bajunya basah akibat hujan. ketika ia semakin mendekat, aku memundurkan tubuhku.

Aku menutup mataku, tepat saat Alva menarik tanganku dan membawaku kedalam pelukannya, “lo mau mati hah?! Lo mundur sedikit lagi, lo bisa mati tau gak!” bentaknya.

Ya, kami sudah berada di pinggir jalan, dengan aku yang masih menangis di dalam pelukannya.

“maaf! Maafin gue... gue minta maaf, gue gak bisa nepatin janji gue, gue harusnya gak muncul lagi di hadapan lo, gue gak seharusnya ada di sini, maaf gue gak bisa nepatin janji gue. Gue gak bisa buat ngelupain lo.” Alva semakin mengeratkan pelukannya.

“enggak, lo gak salah! Gue yang salah, gue yang nyuruh lo pergi padahal harusnya gue tau kalo gue gak bisa hidup tanpa lo! Gue nyaris gila selama lima tahun ini. Karena ucapan gue, gue kehilangan lo... maafin gue, maaf gue baru sadar kalo gue jatuh cinta sama lo, setelah lo pergi. Maafin gue...” aku mengangguk dan membalas pelukannya.

Ia melepas jas-nya kemudian menyampirkannya di bahuku, “gue gak mau liat lo sakit, karena itu sama aja ngebunuh gue.” “mau pulang sekarang?” aku mengangguk.

“gue kangen sama lo.” Ucapnya sambil merengkuh bahuku membawaya lebih dekat dengannya.

“gue lebih sayang sama lo.” Jawabku kemudian menyandarkan kepalaku di bahunya.

Sory Of Us

Posted by burrahman123 on February 12, 2016 at 11:50 AM Comments comments (0)

 

Pernahkah merasa lelah saat mencintai seseorang yang hanya menganggapmu sebagai lelucon? Jika pernah, rasanya menyakitkan bukan? Aku merasakannya juga. Tapi, aku memang bodoh. Bodoh karena aku tak sanggup untuk membencinya dan aku juga rela memberikan segalanya untuk kebahagiannya, termasuk nyawaku.

 

.....

 

“Dasar Nerd!”

“Mati aja Lo!”

“Lo gak pantes ada di sekolah ini!”

Kira-kira begitulah kalimat-kalimat menyakitkan yang setiap hari ku dengar. Kalian bisa membayangkan bukan sakitnya hatiku? Apalagi orang yang kucintai ikut andil dalam hal ini.

Hari ini pun sama, mereka menyiramku dengan air yang entah darimana, kemudian melempariku dengan tepung dan telur. Dan semua hanya karena aku tidak sengaja menabrak Devon yang berstatus sebagai anak terkaya di sekolah ini. Sekaligus orang yang kucintai.

Aku hanya dapat berlari sambil menahan air mataku yang sudah menggenang di pelupuk mataku, berusaha mengabaikan orang-orang yang menatapku dengan tatapan mencemooh. Hanya satu tempat yang ingin aku kunjungi saat ini.

Tangga darurat.

Aku mendudukkan diriku di anak tangga kedua dari lantai tiga, perlahan air mata mulai menetes turun menelusuri pipi. Namun, air mata itu berhenti ketika aku mendengar sebuah percakapan beberapa orang dari bawah sana, dan percakapan mereka membuatku nyaris berteriak.

“ntar lo bakar Auditorium khusus yang ada di lantai satu!” ucap suara bariton menggemadi tangga darurat.

“tapi kalo ketahuan, nasib kita gimana?” tanya sebuah suara lagi.

“biarin aja, ini bales dendam kita karena Devon CS. Udah ngerebut gebetan kita dulu.” Suara bariton kembali menggema, “oke deh! Gue juga gak rela, karena bokapnya keluarga gue nyaris jadi gembel.”

“ayo buruan, kita lewat jalan belakang aja biar gak ada yang ngeliat!” suara derap kaki yang dilapisi sepatu kemudian disusul dengan suara pintu tertutup.

Aku segera berlari ke lantai dasar menuju ruang Auditorium khusus. Tapi, tali sepatuku yang menjuntai panjang, tidak sengaja terinjak sehingga aku terjatuhh dan terguling ke bawah. Aku menyentuh pelipis kananku yang mengeluarkan cairan merah kental, “akh...” pekikku ketika mencoba untuk berdiri, sepertinya kakiku terkilir.

Aku berjalan tertatih menyusuri sisa anak tangga, dengan sedikit berlari akhirnya aku sampai di depan ruang Auditorium khusus, dengan segera aku membuka pintu ruangan tersebut dan tampak Devon sedang memainkan gitar yang berada di pangkuannya.

“Devon!!!” teriakku disertai batuk karena dadaku yang terasa nyeri.

Devon serentak berdiri mendengar teriakanku, “ngapain lo disini?!” bentaknya.

“Gue tau lo gak suka sama gue, tapi lo harus keluar sekarang juga! Ada yang mau bakar tempat ini!” bukannya segera keluar Devon malah tertawa terbahak-bahak seperti biasa, “lo kalo mau cari perhatian, gak usah kayak gini! Gak lucu sumpah!” tiba-tiba raut wajahnya berubah datar.

“G-gue lagi, uhuk! Gak bercanda uhuk! Uhuk!” suaraku berubah lirih seirih dadaku yang terasa semakin nyeri sesak.

“gue bilang jangan bercanda! Bercanda lo gak lucu!!” bentaknya lagi membuatku merasa lemas.

Aku terduduk di lantai yang terlapisi karpet karena kakiku tak kuat lagi menopang tubuhku, “gue gak bercanda!!” teriakku sambil menatap manik matanya yang kini menyorotkan keterkejutan.

Saat itu pula, asap mulai memenuhi ruangan melalui celah pintu berikut dengan api yang membakar tembok ruangan. Devon berjalan ke arahku kemudian berjongkok di hadapanku, “lo tunggu sebentar disini, maaf gue gak percaya sama lo.”

Ia mengeluarkan handphone dari saku bajunya, “tolongin gue cepetan! Auditorium kebakaran, lo pada buruan tolongin gue!” ucapnya kepada seseorang di telpon.

“akh!!” pekiknya.

“kenapa?” tanyaku dengan lirih.

“pintunya dikunci dari luar, lo bener! Ada yang sengaja ngelakuin ini, lo sabar temen gue bentar lagi dateng.”

Asap semakin menghitam, membuat mata terasa perih dan dada sesak. Sedangkan Devon yang berjongkok di hadapanku mulai terbatuk. Aku mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku bajuku dan menutup hidung Devon, “pake! Seenggaknya ngurangin asap yang masuk ke pernapasan lo.”

“lo aja! Gue tau lo juga sesek.” Ia mejauhkan sapu tanganku dari hidungnya, namun aku menahannya

“lo aja! Gue gak akan kenapa-napa lo lebih berarti dari gue!” lirihku mengundang tatapan heran miliknya, “maksud lo?”

“maksud gue, kalo lo kenapa-napa banyak yang akan kehilangan lo! beda sama gue, gue gak punya siapa-siapa, jadi gak akan ada yang ngerasa kehilangan gue.” Jelasku membuatnya terdiam.

Apa aku salh bicara?

Tiba-tiba ia membawaku ke dalam pelukannya yang terasa nyaman membuat kedua kelopak mataku memberat membawa pergi semua rasa sakit yang aku rasakan.

BRAKK!

“Na? Anna bangun Na!!” itulah suara terakhir yang kudengar sebelum semuanya berubah gelap.

 

.....

 

“Lo masih gak mau bangun?” sebuah suara mengalun indah di telingaku.

“nyaris seminggu lho! Belom puas ya, bales dendamnya?” tunggu! Bukannya ini suara Devon?

“lo jago banget buat masalah bales dendam kayak gini, bikin semua orang ngerasa bersalah tau nggak? Apa gue terlalu jahat sam lo? Sampe lo bales dendam dengan cara yang bikin sakit semua orang, termasuk gue sendiri.” Ingin rasanya aku membuka kedua mataku, tapi keduanya terasa menempel.

“Anna! Ayolah bangun, gue udah gak kuat kalo harus ngeliat lo kayak gini apalagi semuanya karena gue, bangun... maafin gue!” lirihnya.

Aku dapat merasakan tanganku menghangat akibat genggaman seseorang, “dan buat perkataan terakhir lo waktu itu, nyatanya masih ada orang yang ngerasa kehilangan lo Na, dan orang itu gue!” ia menarik napas dalam, “gue sayang sama lo Anna.”

Perlahan aku mmembuka mataku, aku dapat melihat Devon yan membenamkkan kepalanya di sampin tubuhku meski keadaan gelap, aku dapat melihat jelas, jejak air mata di pipinya. Aku memberanikan diriku untuk menghapus air mata yang masih tersisa. Mungkin karena tidurnya terganggu, ia memalingkan wajahnya sambil bergumam pelan, membuatku terkekeh lirih. Tapi, tiba-tiba ia mengangkat kepalanya dan kedua matanya menatapku.

“Akhirnya, lo sadar juga... gue panggil dokter dulu ya?” aku menggelengkan kepalaku pelan, aku tidak mau kehilangan lagi, “jangan...” ucapku lirih.

“oke, gue gak akan kemana-mana.” Devon kembali menatapku lembut.

Cukup lama aku terdiam sampai aku memberanikan diri untuk angkat bicara, “lo kenapa gak pulang?”

“Gimana gue bisa pulang?! Lo aja gak bangun-bangun!” “nyusahin orang aja...” gumamnya pelan, namun masih dapat terdengar olehku, “kalo nyusahin ya tinggal aja, gue juga gak minta kok!” lirihku.

Aku memiringkan posisi tubuhku sehingga membelakanginya, dan terdengar helaan napas dari belakang. Setelahnya suara decitan kursi yang nyaring terdengar disusul dengan guncangan di sisi tempat tidurku, “gak usah ngambek! Gue cuma bercanda kok... omong-omong gue kok gak nemu kontak keluarga atau rumah lo ya?” tanyanya.

“Gue tinggal sendirian. Orang tua gue udah pisah dan gue gak tau mereka dimana.”

“maaf, gue gak maksud. Tapi, setelah ini gue janji gak akan bikin lo kesepian, gue akan selalu ada di samping lo selamanya.”

Aku kembali membalikkan tubuhku menghadapnya, “janji?” aku menyodorkan kelingkingku ke arahnya, ia pun mengaitkan kelingkingnya padaku.

“Janji!”


Rss_feed