Blog

Sory Of Us

Posted by burrahman123 on February 12, 2016 at 11:50 AM

 

Pernahkah merasa lelah saat mencintai seseorang yang hanya menganggapmu sebagai lelucon? Jika pernah, rasanya menyakitkan bukan? Aku merasakannya juga. Tapi, aku memang bodoh. Bodoh karena aku tak sanggup untuk membencinya dan aku juga rela memberikan segalanya untuk kebahagiannya, termasuk nyawaku.

 

.....

 

“Dasar Nerd!”

“Mati aja Lo!”

“Lo gak pantes ada di sekolah ini!”

Kira-kira begitulah kalimat-kalimat menyakitkan yang setiap hari ku dengar. Kalian bisa membayangkan bukan sakitnya hatiku? Apalagi orang yang kucintai ikut andil dalam hal ini.

Hari ini pun sama, mereka menyiramku dengan air yang entah darimana, kemudian melempariku dengan tepung dan telur. Dan semua hanya karena aku tidak sengaja menabrak Devon yang berstatus sebagai anak terkaya di sekolah ini. Sekaligus orang yang kucintai.

Aku hanya dapat berlari sambil menahan air mataku yang sudah menggenang di pelupuk mataku, berusaha mengabaikan orang-orang yang menatapku dengan tatapan mencemooh. Hanya satu tempat yang ingin aku kunjungi saat ini.

Tangga darurat.

Aku mendudukkan diriku di anak tangga kedua dari lantai tiga, perlahan air mata mulai menetes turun menelusuri pipi. Namun, air mata itu berhenti ketika aku mendengar sebuah percakapan beberapa orang dari bawah sana, dan percakapan mereka membuatku nyaris berteriak.

“ntar lo bakar Auditorium khusus yang ada di lantai satu!” ucap suara bariton menggemadi tangga darurat.

“tapi kalo ketahuan, nasib kita gimana?” tanya sebuah suara lagi.

“biarin aja, ini bales dendam kita karena Devon CS. Udah ngerebut gebetan kita dulu.” Suara bariton kembali menggema, “oke deh! Gue juga gak rela, karena bokapnya keluarga gue nyaris jadi gembel.”

“ayo buruan, kita lewat jalan belakang aja biar gak ada yang ngeliat!” suara derap kaki yang dilapisi sepatu kemudian disusul dengan suara pintu tertutup.

Aku segera berlari ke lantai dasar menuju ruang Auditorium khusus. Tapi, tali sepatuku yang menjuntai panjang, tidak sengaja terinjak sehingga aku terjatuhh dan terguling ke bawah. Aku menyentuh pelipis kananku yang mengeluarkan cairan merah kental, “akh...” pekikku ketika mencoba untuk berdiri, sepertinya kakiku terkilir.

Aku berjalan tertatih menyusuri sisa anak tangga, dengan sedikit berlari akhirnya aku sampai di depan ruang Auditorium khusus, dengan segera aku membuka pintu ruangan tersebut dan tampak Devon sedang memainkan gitar yang berada di pangkuannya.

“Devon!!!” teriakku disertai batuk karena dadaku yang terasa nyeri.

Devon serentak berdiri mendengar teriakanku, “ngapain lo disini?!” bentaknya.

“Gue tau lo gak suka sama gue, tapi lo harus keluar sekarang juga! Ada yang mau bakar tempat ini!” bukannya segera keluar Devon malah tertawa terbahak-bahak seperti biasa, “lo kalo mau cari perhatian, gak usah kayak gini! Gak lucu sumpah!” tiba-tiba raut wajahnya berubah datar.

“G-gue lagi, uhuk! Gak bercanda uhuk! Uhuk!” suaraku berubah lirih seirih dadaku yang terasa semakin nyeri sesak.

“gue bilang jangan bercanda! Bercanda lo gak lucu!!” bentaknya lagi membuatku merasa lemas.

Aku terduduk di lantai yang terlapisi karpet karena kakiku tak kuat lagi menopang tubuhku, “gue gak bercanda!!” teriakku sambil menatap manik matanya yang kini menyorotkan keterkejutan.

Saat itu pula, asap mulai memenuhi ruangan melalui celah pintu berikut dengan api yang membakar tembok ruangan. Devon berjalan ke arahku kemudian berjongkok di hadapanku, “lo tunggu sebentar disini, maaf gue gak percaya sama lo.”

Ia mengeluarkan handphone dari saku bajunya, “tolongin gue cepetan! Auditorium kebakaran, lo pada buruan tolongin gue!” ucapnya kepada seseorang di telpon.

“akh!!” pekiknya.

“kenapa?” tanyaku dengan lirih.

“pintunya dikunci dari luar, lo bener! Ada yang sengaja ngelakuin ini, lo sabar temen gue bentar lagi dateng.”

Asap semakin menghitam, membuat mata terasa perih dan dada sesak. Sedangkan Devon yang berjongkok di hadapanku mulai terbatuk. Aku mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku bajuku dan menutup hidung Devon, “pake! Seenggaknya ngurangin asap yang masuk ke pernapasan lo.”

“lo aja! Gue tau lo juga sesek.” Ia mejauhkan sapu tanganku dari hidungnya, namun aku menahannya

“lo aja! Gue gak akan kenapa-napa lo lebih berarti dari gue!” lirihku mengundang tatapan heran miliknya, “maksud lo?”

“maksud gue, kalo lo kenapa-napa banyak yang akan kehilangan lo! beda sama gue, gue gak punya siapa-siapa, jadi gak akan ada yang ngerasa kehilangan gue.” Jelasku membuatnya terdiam.

Apa aku salh bicara?

Tiba-tiba ia membawaku ke dalam pelukannya yang terasa nyaman membuat kedua kelopak mataku memberat membawa pergi semua rasa sakit yang aku rasakan.

BRAKK!

“Na? Anna bangun Na!!” itulah suara terakhir yang kudengar sebelum semuanya berubah gelap.

 

.....

 

“Lo masih gak mau bangun?” sebuah suara mengalun indah di telingaku.

“nyaris seminggu lho! Belom puas ya, bales dendamnya?” tunggu! Bukannya ini suara Devon?

“lo jago banget buat masalah bales dendam kayak gini, bikin semua orang ngerasa bersalah tau nggak? Apa gue terlalu jahat sam lo? Sampe lo bales dendam dengan cara yang bikin sakit semua orang, termasuk gue sendiri.” Ingin rasanya aku membuka kedua mataku, tapi keduanya terasa menempel.

“Anna! Ayolah bangun, gue udah gak kuat kalo harus ngeliat lo kayak gini apalagi semuanya karena gue, bangun... maafin gue!” lirihnya.

Aku dapat merasakan tanganku menghangat akibat genggaman seseorang, “dan buat perkataan terakhir lo waktu itu, nyatanya masih ada orang yang ngerasa kehilangan lo Na, dan orang itu gue!” ia menarik napas dalam, “gue sayang sama lo Anna.”

Perlahan aku mmembuka mataku, aku dapat melihat Devon yan membenamkkan kepalanya di sampin tubuhku meski keadaan gelap, aku dapat melihat jelas, jejak air mata di pipinya. Aku memberanikan diriku untuk menghapus air mata yang masih tersisa. Mungkin karena tidurnya terganggu, ia memalingkan wajahnya sambil bergumam pelan, membuatku terkekeh lirih. Tapi, tiba-tiba ia mengangkat kepalanya dan kedua matanya menatapku.

“Akhirnya, lo sadar juga... gue panggil dokter dulu ya?” aku menggelengkan kepalaku pelan, aku tidak mau kehilangan lagi, “jangan...” ucapku lirih.

“oke, gue gak akan kemana-mana.” Devon kembali menatapku lembut.

Cukup lama aku terdiam sampai aku memberanikan diri untuk angkat bicara, “lo kenapa gak pulang?”

“Gimana gue bisa pulang?! Lo aja gak bangun-bangun!” “nyusahin orang aja...” gumamnya pelan, namun masih dapat terdengar olehku, “kalo nyusahin ya tinggal aja, gue juga gak minta kok!” lirihku.

Aku memiringkan posisi tubuhku sehingga membelakanginya, dan terdengar helaan napas dari belakang. Setelahnya suara decitan kursi yang nyaring terdengar disusul dengan guncangan di sisi tempat tidurku, “gak usah ngambek! Gue cuma bercanda kok... omong-omong gue kok gak nemu kontak keluarga atau rumah lo ya?” tanyanya.

“Gue tinggal sendirian. Orang tua gue udah pisah dan gue gak tau mereka dimana.”

“maaf, gue gak maksud. Tapi, setelah ini gue janji gak akan bikin lo kesepian, gue akan selalu ada di samping lo selamanya.”

Aku kembali membalikkan tubuhku menghadapnya, “janji?” aku menyodorkan kelingkingku ke arahnya, ia pun mengaitkan kelingkingnya padaku.

“Janji!”

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments