Blog
Pergi, Hujan dan Kembali
|
|
Aku berharap dapat melupakannya saat hujan menghapus jejakku. Tetapi, aku telah salah. Hujan selalu mengingatkanku ketika ia menyuruhku untuk pergi dan menghilang. Namun dengan seenak hati hujan pula yang membawaku pulang dan bertemu dengannya.
.....
Aku menatap pemandangan langit malam yang kini tengah menangis di kota yang telah aku tinggalkan beberapa tahun lalu melalui jendela kamar apartemenku.
Jika bukan karena paksaan Gissa, sahabatku yang akan menikah besok. Aku tidak akan mau kembali ke kota ini. Aku sudah berjanji kepada seseorang agar tidak menampakkan diriku di hadapannya. Dan kini, aku takut jika nanti aku bertemu dengannya dan melanggar janjiku.
KRING!!!
Aku mengangkat panggilan masuk di handphone-ku, “halo Rin!! Lo udah di Jakarta?” suara Gissa yang nyaring menggema.
“udah, gue baru nyampe tadi siang...” ucapku tanpa mengalihkan pandanganku dari jendela, terdengar helaan napas dari sebrang sana, “maaf ya, gue gak bisa jemput... tadi gue harus ketemu sama WO gue.”
“santai aja kali, kayak sama siapa aja.” Tawaku meski terdengar hambar.
“oh iya Rin! Beberapa hari yang lalu, gue gak sengaja ketemu sama Alva.” Ucap Gissa membuatku tersentak.
Nama itu. Nama yang dulu pernah mengisi hatiku, bahkan sampai saat ini. Dan nama itu pula yang membuatku menangis untuk yang terakhir kalinya, beberapa tahun lalu.
“Rinai? Lo gak kenapa-napa kan?” tanya Gissa, “hah? Oh, gue gak kenapa-napa kok.” Jawabku menahan sesak akibat berbagai campuran emosi.
“Rin, ternyata Alva rekan bisnisnya Reza, calon suami gue. Jadi besok, lo hati-hati ya kalo gak mau ketemu dia.”
“iya, makasih ya Gis... sampai ketemu besok!”
KLIK.
Aku memutuskan sambungan secara sepihak, aku kembali menatap hujan di luar sana. Dan setelah 5 tahun berlalu, kini air mataku kembali menetes disusul isakkan kecil yang lolos begitu saja dari mulutku. Dan semua kenangan pahit 5 tahun lalu kembali muncul begitu saja seperti sebuah rekaman video.
.....
Saat itu, kami mengadakan perpisahan SMA kami di Bali, kemana pun Alva pergi aku selalu mengikutinya. Sampai di hari terakhir kami di sana, ia membentakku.
“bisa gak sih lo berhenti ngikutin gue?!” bentaknya.
“tapi gu-“ “gak usah pake tapi-tapi! Lo cuma mau alesankan kalo elo suka sama gue?” ucap Alva ketus.
“lo harusnya sadar!! Sampe kapanpun gue, gak akan pernah suka sama lo! Jadi lebih baik lo pergi dan jauh-jauh dari hidup gue, karena sampai kapanpun gue gak bakal peduli sama usaha lo yang abstrak itu!” teriaknya.
“maaf! Maafin gue... gue minta maaf, gue janji gue gak akan ganggu lo lagi.” Ucapku berkali-kali dengan tubuhku yang mulai meluruh ke tanah.
Kemudian ia meninggalkanku yang terisak sendirian. Hingga pada akhirnya Gissa datang memelukku dan menenangkanku.
Sejak saat itu aku berjanji untuk tidak menampakkan diriku di hadapan dan kehidupannya lagi.
.....
Setelah nyaris semalaman aku menangis, kini aku berada di balik stir mobilku. Hujan di luar sana membuat jalanan sedikit macet. Setelah akad nikah yang dilakukan Reza dan Gissa. Sekarang aku menuju BallRoom hotel milik Reza yang mereka jadikan sebagai tempat resepsi.
Membutuhkan waktu nyaris 30 menit untuk sampai di BallRoom tersebut. Aku memarkir mobil di seberang hotel, karena parkiran hotel yang sudah penuh. Aku sedikit berlari berupaya menjaga Dress Peach selutut yang kugunakan tidak terlalu basah akibat air hujan.
Aku segera mengantri untuk bersalaman dengan sepasang suami istri berwajah bahagia yang berdiri di atas panggung sana.
Dan tak lama kemudian giliran ku tiba, “Gissa!! Yaampun, udah lama gak ketemu sekarang udah nikah aja... selamat ya!!” aku memeluk sahabatku tersebut.
“Reza! Selamat ya!! Jagain sahabat gue! Kalo dia kenapa-napa gara-gara lo, jangan harap bisa ngeliat dunia lagi” ancamku mengundang kekehan keduanya, “ada-ada aja lo Rin... omong-omong lo kapan nyusul?” ledek Reza membuatku terdiam sebentar.
“kapan-kapan aja kali ya... calon aja belom ada, mau nyusul bareng siapa?” “udah ya, gue pulang duluan ya, ada janji sama seseorang.” Ucapku yang jelas bohong.
Aku hanya ingin menghindari topik tersebut, juga aku tak ingin sampai bertemu dengan Alva yang nantinya akan menghancurkan janji yang selama ini kujaga baik-baik.
Aku turun dari panggung setelah berpamitan dengan Reza dan Gissa. Namun, seseorang memanggilku membuatku berhenti di tempat.
“kamu Rinai, temennya Gissa waktu SMA kan?” tanya laki-laki di hadapanku.
Aku menganggukkan kepalaku, “Abian kan? Temennya Alva?” tanyaku dan laki-laki itu mengangguk, “masih inget toh ternyata sama gue, atau inget gara-gara gue temennya Alva?” tanyanya jahil sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
“udah ah gue mau pulang duluan!” ucapku kemudian membalikkan badanku.
“gak mau ketemu Alva dulu? Setelah lulus lo sama keluarga lo kan semacam menghilang tanpa jejak, bikin idola lo galau karena kehilangan fansnya.” Ledeknya membuat tubuhku seketika membeku.
Aku membalikkan tubuhku kembali menghadapnya, “di-dia ada di sini?” tanyaku.
“ciee... nanyain kangen ya?” “tuh ada di belakang lo!” lanjutnya sambil menunjuk ke arah belakangku.
Seketika tubuhku terasa lemas, apalagi ketika seseorang memelukku dari belakang, “jangan tinggalin gue lagi...” ucap orang tersebut.
Aku segera melepaskan pelukannya, “maaf, salah orang.”
Aku segera berlari keluar dari gedung tersebut, tak peduli dengan hujan yang semakin deras yang mengguyur tubuhku membuatku basah kuyup.
“RINAI?!!” teriak Alva, ya! Aku sangat hafal dengan suara lelaki itu, meski sedikit banyak mengalami perubahan.
“Rin, jangan pergi! Gue mohon jangan pergi lagi, gue mohon!” ucapnya lirih, bajunya basah akibat hujan. ketika ia semakin mendekat, aku memundurkan tubuhku.
Aku menutup mataku, tepat saat Alva menarik tanganku dan membawaku kedalam pelukannya, “lo mau mati hah?! Lo mundur sedikit lagi, lo bisa mati tau gak!” bentaknya.
Ya, kami sudah berada di pinggir jalan, dengan aku yang masih menangis di dalam pelukannya.
“maaf! Maafin gue... gue minta maaf, gue gak bisa nepatin janji gue, gue harusnya gak muncul lagi di hadapan lo, gue gak seharusnya ada di sini, maaf gue gak bisa nepatin janji gue. Gue gak bisa buat ngelupain lo.” Alva semakin mengeratkan pelukannya.
“enggak, lo gak salah! Gue yang salah, gue yang nyuruh lo pergi padahal harusnya gue tau kalo gue gak bisa hidup tanpa lo! Gue nyaris gila selama lima tahun ini. Karena ucapan gue, gue kehilangan lo... maafin gue, maaf gue baru sadar kalo gue jatuh cinta sama lo, setelah lo pergi. Maafin gue...” aku mengangguk dan membalas pelukannya.
Ia melepas jas-nya kemudian menyampirkannya di bahuku, “gue gak mau liat lo sakit, karena itu sama aja ngebunuh gue.” “mau pulang sekarang?” aku mengangguk.
“gue kangen sama lo.” Ucapnya sambil merengkuh bahuku membawaya lebih dekat dengannya.
“gue lebih sayang sama lo.” Jawabku kemudian menyandarkan kepalaku di bahunya.
Categories: None
Post a Comment
Oops!
The words you entered did not match the given text. Please try again.
Oops!
Oops, you forgot something.